• D8C4FC52
  • D891B6D1
  • Agenbola855

AGENBOLA855.COM AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA DATAR SEKARANG.


SELAMAT DATANG DI WEB AGENBOLA855

Agenbola855 - kami hadir sebagai Agen Taruhan Bola, Agen Judi Bola, SBOBET Casino Online dan kami juga menyediakan Prediksi Skor dan Berita Bola yang mengikuti perkembangan terbaru dari klub-klub kesanyangan anda. dalam memberikan pelayanan yang maksimal kami sudah sangat berpengalaman dalam menyediakan jasa pembuatan akun Judi Online dari games Tangkas, Casino Online, SBOBET, IBCBET, 338A, TOGEL dan POKER ONLINE dan kami juga sudah terferifikasi dan terpercaya.

Apa Keunggulan Memilih AgenBola855?


icon02 Mengapa Memilih Agenbola855?

Layanan Konsumen Terbaik

Komitmen kami adalah memberikan kenyamanan bagi member dalam bermain maupun bertransaksi. Kami siap sedia setiap saat untuk melayani anda melalui telephone, SMS, BBM, email maupun messanger.

icon01 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jenis Permainan Beragam

Kami memiliki pilihan produk permainan yang sangat lengkap dan menarik yang telah didukung oleh teknologi canggih serta ditangani oleh para staff-staff profesional. Semua permainan berlisensi dan tidak ada manipulasi.

icon03 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jaminan Keamanan Deposit

Kami menjamin 100% aman untuk deposit karena anda adalah aset yang paling berharga. Anda dapat melakukan deposit dan withdrawal dalam waktu yang sangat cepat.

icon04 Mengapa Memilih Agenbola855?

Bonus Melimpah

Anda akan mendapatkan berbagai bonus sejak pertama kali mendaftar dan akan terus berulang selama mengikuti permainan. Kepuasan anda adalah prioritas kami.

* Agenbola855 hanya bertindak sebagai jasa perantara, bukan situs penyelenggara perjudian ( Perjudian ).

Pemerintah dan Federasi yang (Selalu) Tak Peduli

Written by admin on . Posted in Berita Liga

JAKARTA, KOMPAS.com – Hanya berselang sepekan, empat orang suporter tewas di Indonesia. Jika pada hari Minggu (27/5/2012), di kawasan Stadion Gelora Bung Karno, terjadi insiden yang menewaskan tiga orang melibatkan penggemar fanatik Persija, JakMania, dan Viking, fans Persib Bandung, pada hari Minggu berikutnya (3/6/2012), satu orang suporter fanatik Persebaya Surabaya, Bonek, tewas dalam kericuhan di kandang klub kesayangannya sendiri.

Hanya berselang sepekan, kejadian yang melayangkan nyawa manusia dengan mudahnya kembali berulang di dunia sepak bola seolah kekerasan telah dimaklumi dalam olah raga yang sebenarnya mengajarkan untuk menjunjung fair play ini. Siapa yang harus bertanggung jawab?

Menanggapi insiden di GBK usai laga lanjutan Indonesia Super League (ISL), yang dicatat sebagai kompetisi tidak sah oleh federasi sepak bola negara ini, Ketua Umum Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin, menyayangkan dan menyampaikan rasa prihatinnya. Lalu, dia mewacanakan pengorganisasian pendidikan khusus dari klub kepada para suporternya.

Menpora Andi Malarangeng lebih sentimental dengan mengaku kecewa dengan kerusuhan yang berujung pada tewasnya suporter yang kembali mewarnai sepak bola nasional. Senada dengan Djohar, dia menyerahkan antisipasi selanjutnya kepada klub. Andi meminta manajemen klub memberikan arahan yang benar dan membina para suporternya untuk mengutamakan kedamaian sesama pendukung dari tim lainnya.

“Setiap tim kesebelasan harus membina suporternya untuk menonton dengan damai. Para pemimpin suporter harus mendisiplinkan anggotanya agar tetap selalu bersemangat tetapi dengan cara yang sehat dan damai,” ujar Andi saat dihubungi Kompas.com, Kamis (31/5/2012).

Rasa prihatin dan kecewa serta pernyataan itu tampaknya kurang mempan. Buktinya, sepekan kemudian, insiden tewasnya suporter kembali mewarnai sepak bola nasional. Kali ini, dalam laga lanjutan Indonesian Premier League (IPL), kericuhan terjadi antara Bonek dan aparat kepolisian yang dimulai karena aksi Bonek melempari botol dan bahkan berusaha masuk ke dalam lapangan. PSSI kembali menyampaikan rasa prihatinnya.

Seperti dikutip dari situs resmi federasi, Sekjen PSSI, Tri Gustoro, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam terhadap tewasnya Purwo Adi Utomo. Djohar, sehari setelah kejadian, kembali mengulang pernyataan rasa prihatinnya seperti yang diucapkannya seminggu sebelumnya.

“Pertama kita turut berdukacita yang dalam atas kejadian yang sungguh tidak kita inginkan ini. Kita prihatian atas kejadian ini dan kita harap hal seperti ini janganlah terulang lagi karena ini sungguh menyedihkan kita semua. Apalagi pihak keluarga yang tidak menyangka suasana bisa seperti ini. Oleh karena itu pelajaran pahit dan berharga ini, betul-betul dicatat oleh seluruh penyelenggara sepak bola di Tanah Air menjaga kemungkinan hal ini tidak boleh terulang lagi. Jadi resiko-resiko suatu pertandingan harus dijaga ketat,” katanya.

Perlu diingat pula, dua kejadian ini hanya berjarak sekitar dua bulan dari insiden melayangnya lima nyawa Bonek dan 18 orang luka-luka, Jumat (9/3/2012) malam. Saat itu, rombongan suporter Persebaya itu hendak menuju Bojonegoro untuk mendukung timnya berlaga melawan Persibo. Di tengah perjalanan menggunakan kereta api barang, mereka dilempari batu oleh warga saat melintas di wilayah Babat, Lamongan. Sontak, kepanikan terjadi. Beberapa suporter yang berusaha menghindar kemudian terjatuh karena tersangkut kabel.

Sekadar prihatin, bukan peduli

Masyarakat juga prihatin, berdukacita dan kecewa dengan melayangnya nyawa saudara-saudara pencinta sepak bola. Namun, rasa prihatin tak menyelesaikan masalah.

Pengamat sepak bola yang juga adalah jurnalis senior, Budiarto Shambazy, mengatakan, pemerintah, melalui Menpora dan kepolisian, serta PSSI sebagai pihak yang berwenang tak perlu hanya mengumbar rasa prihatin kepada publik. Mereka harus tegas dan mengambil langkah signifikan. Apalagi, dalam sejarah sepak bola nasional, JakMania, Viking dan Bonek tercatat sebagai suporter-suporter fanatik yang kerap terlibat dalam kerusuhan.

“Pemerintah harusnya turun tangan, Menpopolhukam, Menkokesra, Menpora, sudah ngomong, tapi hanya sebatas omong. Kepolisian juga sudah bicara sebagai pihak yang bertugas langsung. Namun tetap sebatas omong. Mengimbau itu gampang, semua juga bisa. Harusnya pemerintah dan federasi tegas, ini ada kejadian dalam sepekan empat tewas, yang melibatkan suporter yang itu tadi, dia-dia lagi,” ungkap Budiarto saat dihubungi Kompas.com, kemarin.

Menurutnya, pemerintah bersama federasi seharusnya bersikap tegas dengan menjatuhkan hukuman kepada klub yang memiliki suporter. Coba berkaca pada pemerintah dan federasi sepak bola di negara lain.

Di Inggris misalnya, dimana para hooligan sudah cukup memusingkan pemerintah dan masyarakatnya. Para suporter fanatik klub di Inggris tumbuh pesat sejak tahun 1970-an bahkan rela mati untuk klubnya. Hingga kemudian terjadi tragedi di final Piala Champion 1985 yang mempertemukan Liverpool dan Juventus di Stadion Heysel, Brussel, Belgia.

Baru saja laga dimulai, Liverpudlian menyerang para suporter Juventus hingga menyebabkan 39 Juventini tewas. Pasca Tragedi Heysel ini, Ratu Elizabeth II dan Perdana Menteri Margaret Thatcher menyatakan perang terhadap hooliganisme, melarang semua klub Inggris tampil dalam seluruh kompetisi di Eropa sampai tahun 1990, dan melarang hooligan berkunjung ke kompetisi mana pun di luar negeri.

Tak hanya itu, tragedi yang berulang di dalam negeri pad atahun 1989 kemudian membuat Inggris mengeluarkan Football Spectators Act 1989 untuk mengatur aksi para suporter dan sanksi bagi para perusuh sepak bola yang kemudian diamandemen beberapa kali hingga saat ini.

Tak hanya Inggris, Federasi Sepak Bola Turki misalnya, pada tahun 2006, mengeluarkan peraturan untuk meredam aksi rusuh suporter sepak bola. Jika kerusuhan yang melibatkan suporternya kembali terjadi, federasi akan menjatuhkan hukuman untuk klub sebesar 500.000 lira Turki atau sekitar Rp 2,6 miliar. Sanksi ini mendorong klub untuk menekan kemungkinan ulah negatif para suporter fanatiknya.

“Kita harusnya sudah drastis seperti itu tindakannya. Tak cukup hanya dihukum bertanding tanpa penonton, dilarang saja bertanding,” kata Budiarto.

“Hukum sudah klubnya, bukan fansclub saja. Karena secara langsung atau tidak langsung, mereka (klub) bertanggung jawab terhadap kejadian ini. Mereka tahu persis mengelola fansclub. Sekarang, ini tak terkelola dengan baik. Jadi setiap kali ada pertandingan mereka bisa seenaknya rusuh,” tambahnya.

Tegas pada klub

Budiarto berpendapat, pemerintah dan federasi bisa mulai dengan menjatuhkan sanksi larangan bertanding kepada Persija atas pecahnya insiden di GBK.

“Yang terjadi di GBK itu kan pembunuhan. Jelas, Persija seharusnya sudah harus kena hukum. Yang jelas kasus di GBK itu yang bertanggung jawab ya Persija. Kalau itu ditegakkan kan bisa membuat klub-klub lain gentar. Pemerintah bersama federasi yang mengeluarkan hukuman. Kalau pemerintah dan Menpora jatuhkan hukuman, polisi akan ikut, mereka tak akan keluarkan izin bertanding. Fans rusuh tak akan keluar sementara,” tuturnya kemudian.

Persebaya, lanjutnya, juga sudah bisa dijatuhkan sanksi larangan bertanding karena tak bisa mengendalikan aksi para suporter fanatiknya.

Menurut Budiarto, ketegasan pemerintah dan federasi sepak bola jangan suam-suam kuku. Pengurus PSSI saat ini tak boleh mengulangi kelakuan Nurdin Halid saat menjabat sebagai Ketua PSSI. Pada tahun 2007, Nurdin mengurangi sanksi Persebaya yang awalnya dilarang main di kandang selama dua tahun karena kerusuhan besar yang terjadi sebelumnya menjadi hanya larangan tiga kali menggelar laga kandang.

“Baru beberapa bulan dicabut, itu yang membuat mereka ngelunjak,” katanya.

Budiarto mengatakan atas sanksi itu, klub mungkin memang kekurangan pemasukan untuk membayar gaji pemain dan operasionalisasi klub. Namun, klub harus konsekuen atas tanggung jawabnya terhadap para suporter.

Budiarto juga menyambut baik wacana pengorganisasian pendidikan khusus pada suporter oleh klub di bawah departemen khusus pembinaan suporter. Menurutnya, divisi ini bisa memaksimalkan tanggung jawab klub dan fansclub melalui aturan masing-masing.

“Jadi akhirnya semua bisa aman,” tandasnya.

Jika pemerintah dan federasi sepak bola negara ini benar-benar memahami filosofi sepak bola, tentu tak akan menutup mata. Jangan sampai sepak bola meninggalkan kesan seperti cara Lord Robert Badden-Powel mengenang sepak bola: ‘Sepakbola hanya nyaman bagi pemainnya, namun tidak untuk penontonnya‘.

Pemerintah dan Federasi yang (Selalu) Tak Peduli
Reviewed by admin on
Rating: 5

Tags: ,

Trackback from your site.