• D8C4FC52
  • D891B6D1
  • Agenbola855

AGENBOLA855.COM AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA DATAR SEKARANG.


SELAMAT DATANG DI WEB AGENBOLA855

Agenbola855 - kami hadir sebagai Agen Taruhan Bola, Agen Judi Bola, SBOBET Casino Online dan kami juga menyediakan Prediksi Skor dan Berita Bola yang mengikuti perkembangan terbaru dari klub-klub kesanyangan anda. dalam memberikan pelayanan yang maksimal kami sudah sangat berpengalaman dalam menyediakan jasa pembuatan akun Judi Online dari games Tangkas, Casino Online, SBOBET, IBCBET, 338A, TOGEL dan POKER ONLINE dan kami juga sudah terferifikasi dan terpercaya.

Apa Keunggulan Memilih AgenBola855?


icon02 Mengapa Memilih Agenbola855?

Layanan Konsumen Terbaik

Komitmen kami adalah memberikan kenyamanan bagi member dalam bermain maupun bertransaksi. Kami siap sedia setiap saat untuk melayani anda melalui telephone, SMS, BBM, email maupun messanger.

icon01 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jenis Permainan Beragam

Kami memiliki pilihan produk permainan yang sangat lengkap dan menarik yang telah didukung oleh teknologi canggih serta ditangani oleh para staff-staff profesional. Semua permainan berlisensi dan tidak ada manipulasi.

icon03 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jaminan Keamanan Deposit

Kami menjamin 100% aman untuk deposit karena anda adalah aset yang paling berharga. Anda dapat melakukan deposit dan withdrawal dalam waktu yang sangat cepat.

icon04 Mengapa Memilih Agenbola855?

Bonus Melimpah

Anda akan mendapatkan berbagai bonus sejak pertama kali mendaftar dan akan terus berulang selama mengikuti permainan. Kepuasan anda adalah prioritas kami.

* Agenbola855 hanya bertindak sebagai jasa perantara, bukan situs penyelenggara perjudian ( Perjudian ).

Jadi Mogul Media Burma Terkemuka

Written by admin on . Posted in Berita Bola

INILAH.COM, Rangoon – Dr Than Htut Aung yang menjabat CEO Eleven Media Group, organisasi media terbesar di Burma, adalah orang dengan misi yang jelas dan kini sedang ngebut menyambut reformasi di negaranya.

Kalau dokter Than ini menyebut gerakan demokrasi di Burma sebagai “menakjubkan”, namun konglomerat media ini juga mengingatkan tetap ada ancaman terhadap proses demokrasi. “Kalau Burma kembali seperti dulu, ancaman terbesar adalah korupsi,” katanya seperti ditulis koran The Nation pada Senin ini (14/5).

Sejak 11 tahun silam Dr Than getol berkampanye bersama para redakturnya tentang transparansi dan akuntabilitas melawan represi pemerintahan yang militeristik. Tahun lalu Weekly Eleven News menyabet penghargaan dari Reporters Without Borders atas upaya “berdiri di atas kaki sendiri” menghadapi tekanan junta militer Burma.

Koran minggun Dr Than diberi nama “Weekly Eleven News” dengan merujuk pada permainan sepakbola. Dalam sepak bola, memang ada 22 pemain berebut bola, namun kalau wasitnya tidak adil, mana mungkin menggelar pertandingan yang “fair play”. Dua puluh dua pemain sepak bola itu diibaratkannya sama dengan anggota parlemen Burma yang sebanyak 22 orang pada masa Junta Militer Burma selama 60 tahun lebih.

Karena itu ia merasa nyaman memakai nama kelompok bisnisnya dengan sebutan “Eleven Media” dengan semangat menyindir pemerintah. Ia tahu kebebasan pers Burma masih harus mendaki bukit terjal demokrasi.

Dia tahu sebetulnya sama sekali tidak berminat dalam bisnis media dan tidak memiliki latar belakang jurnalistik karena dia adalah dokter. Namun salah satu pilar demokrasi adalah kebebasan pers, maka Dr Than mau menggeluti bidang jurnalistik ini.

Ia sangat berkeinginan Burma memiliki kebebasan pers yang dimiliki negara-negara Asean seperti Filipina, Indonesia dan Thailand. Oleh karena itu, ia bersedia menandatangani kerja sama dengan kelompok media terkenal The Nation dari Thailand, pekan lalu.

Baru-baru ini ia melakukan penelisikan mendalam mengenai proyek pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air Myistone dari Sungai Ayeyarwady yang dibekingi pemerintah China di Burma Utara. Laporannya mendesak pemerintah Burma menghentikan sementara proyek ini dan tentu saja mendapat tentangan dari China.

Than lulus sebagai dokter dari sebuah univesitas di Inggris pada 1988, namun junta militer tak mau menerbitkan paspornya mengingat kebandelannya. Ia juga tak berminat berprakter sebagai dokter umum dan pada usia 25 tahun ia mulai menggeluti bisnis.

“Saya hanya membukukan keuntungan yang cekak, dan kemudian bisnis saya tidak berjalan mulus. Dengan berbagai alasan, bisnis saya ditutup. Kesempatan datang ketika saya membuka penerbitan First Eleven Sport Journal, “ ujarnya.

Semula “Eleven” hanya diperkuat hanya oleh tiga orang wartawan dengan tiras 5.000 eksemplar per terbit. Dengan pintarnya, Dr Than menangkap imajinasi para pembacanya dengan mengolah pesan politik dalam artikel-artikel sepak bolanya.

“Orang yang berdiri di tengah lapangan (maksudnya wasit) bertindak tidak adil… sepak bola tidak hanya dimainkan oleh 22 orang (jumlah anggota parlemen Burma saat itu) tetapi juga seluruh penonton yang menyaksikan pertandingan itu (rakyat),” tuturnya.

Para pembaca yang gemar pertandingan sepak bola pasti menyukai artikel-artikel yang menyindir kehidupan politik di Burma. Tak ayal, kantor “Eleven” diserang oleh militer setelah media ini menurunkan artikel bersambung mengenai insiden pembunuhan yang terjadi pada 2003. Dr Than ditahan namun segera dilepaskan karena tidak ada bukti kuat.

“Eleven” menjadi martir dan simbol perlawanan. Sensor terhadap media makin gencar dilakukan dalam tahun-tahun berikutnya. Pada 2005, jumlah staf redaksi ditambah menjadi 50 orang dan tirasnya naik menjadi 12 eksemplar. Pembaca makin kecanduan artikel-artikel sepak bola yang diserempet-serempetkan ke wilayah politik.

Dr Than masih tidak mendapat izin menerbitkan koran harian. Sementara artikel-artikel olah raga diloloskan penguasa, karena itu ia menerbitkan mingguan berita. Untuk artikel-artikel olah raga bisa memakan satu atau dua hari disetujui, sementara artikel-artikel lain memakan waktu persetujuan tiga sampai lima hari. “Kita kudu pintar dan hati-hati, “ katanya.

“Ada sejumlah orang baik di dinas intelijen militer… bahkan ada banyak perwira intel sangat pintar, “ tutur Dr Than yang sering menggunakan banyak nama berbeda dalam tulisan-tulisannya.

Angin perubahan terasa agak sejuk setelah 2005, dan sensor sebagian dialihkan ke Kementerian Informasi dari Kementerian Dalam Negeri. Pada saat itu Eleven Media mulai menerbitkan jurnal empat kali seminggu dengan nama media lain-lain, dan mampu mencetak tiras 350.000 eksemplar.

Setelah Presiden Jenderal Thein Sein terpilih pada pemilihan umum 2010 dan tokoh oposisi Aung San Suu Kyii merebut 44 kursi dari sisa jumlah 45 kursi yang diperebutkan, Eleven Media makin berkembang.

Karena itu ia bersedia bekerjasama dengan konglomerat media Thailand The Nation untuk mengembangkan bisnis media di Burma. Yang membuat Eleven Media berkembang melebihi kecepatan air mengalir di oasis-oasis gurun pasri Arab adalah demokrasi Burma itu sendiri.

Ia kini juga menerbitkan jurnal dalam bahas Inggris serta portal berita yang sulit dibendung dan bisa mengalir kemana suka. “Presiden Thein Sein adalah orang baik. Kita beruntung punya dia,” tambah Dokter Than. [mdr]

Jadi Mogul Media Burma Terkemuka
Reviewed by admin on
Rating: 5

Tags: , , , , , , , , ,

Trackback from your site.