AGENBOLA855.COM AGEN JUDI ONLINE TERPERCAYA DATAR SEKARANG.


SELAMAT DATANG DI WEB AGENBOLA855

Agenbola855 - kami hadir sebagai Agen Taruhan Bola, Agen Judi Bola, SBOBET Casino Online dan kami juga menyediakan Prediksi Skor dan Berita Bola yang mengikuti perkembangan terbaru dari klub-klub kesanyangan anda. dalam memberikan pelayanan yang maksimal kami sudah sangat berpengalaman dalam menyediakan jasa pembuatan akun Judi Online dari games Tangkas, Casino Online, SBOBET, IBCBET, 338A, TOGEL dan POKER ONLINE dan kami juga sudah terferifikasi dan terpercaya.

Apa Keunggulan Memilih AgenBola855?


icon02 Mengapa Memilih Agenbola855?

Layanan Konsumen Terbaik

Komitmen kami adalah memberikan kenyamanan bagi member dalam bermain maupun bertransaksi. Kami siap sedia setiap saat untuk melayani anda melalui telephone, SMS, BBM, email maupun messanger.

icon01 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jenis Permainan Beragam

Kami memiliki pilihan produk permainan yang sangat lengkap dan menarik yang telah didukung oleh teknologi canggih serta ditangani oleh para staff-staff profesional. Semua permainan berlisensi dan tidak ada manipulasi.

icon03 Mengapa Memilih Agenbola855?

Jaminan Keamanan Deposit

Kami menjamin 100% aman untuk deposit karena anda adalah aset yang paling berharga. Anda dapat melakukan deposit dan withdrawal dalam waktu yang sangat cepat.

icon04 Mengapa Memilih Agenbola855?

Bonus Melimpah

Anda akan mendapatkan berbagai bonus sejak pertama kali mendaftar dan akan terus berulang selama mengikuti permainan. Kepuasan anda adalah prioritas kami.

* Agenbola855 hanya bertindak sebagai jasa perantara, bukan situs penyelenggara perjudian ( Perjudian ).

Di Bawah Generasi Emas

Written by admin on . Posted in Berita Liga

LONDON, KOMPAS.com – Inggris Raya adalah ”rumah” sepak bola, olahraga paling terkemuka sejagat raya, dilahirkan. Abad ke-21, sepak bola Inggris menjadi daya tarik tersendiri, tidak hanya bagi miliaran penonton dan pencinta olahraga ini, tetapi juga para pesepak bola dari beberapa benua.

Semua mata memandang kompetisi dan para pemain di dalamnya sebagai salah satu tolok ukur kemajuan sepak bola dunia. Ironisnya, kini, sepak bola negara ”ibu” sepak bola ini tertatih-tatih.

Sepekan terakhir, kejutan seperti tiada akhir di Inggris. Tampilnya Manchester City sebagai juara Liga Inggris 2011- 2012 hingga detik terakhir, mengandaskan keinginan Manchester United untuk mengoleksi gelarnya ke-20, mengawali kejutan pekan ketiga Mei ini.

Kejutan lainnya, yang juga dinanti, adalah pengumuman pasukan tim Inggris untuk gelaran Piala Eropa 2012 oleh sang pelatih, yang juga kontroversial saat dipilih, Roy Hodgson.

Setelah lama dinanti, Hodgson mengumumkan nama-nama pemain yang akan memperkuat Inggris di Polandia-Ukraina bulan Juni mendatang.

Di luar nama-nama yang sebelumnya telah digunakan Fabio Capello, seperti Steven Gerrard dan Wayne Rooney, Hodgson mencoba peruntungan dengan merekrut muka-muka baru untuk bergabung di tim St George Cross. Andy Carroll (Liverpool), kiper Norwich City—klub promosi Liga Inggris—John Ruddy dan striker sayap Arsenal, Alex Oxlade-Chamberlain adalah wajah-wajah baru ”Three Lions”.

Hodgson mengatakan, pemain yang masuk dalam sakunya sudah sangat tepat, sesuai dengan kebutuhannya. Ia juga mengatakan, masih ada waktu sekitar tiga pekan lagi untuk mengubah daftar pemain, mengeluarkan dan memasukkan nama pemain, bila terjadi sesuatu pada pekan mendatang.

Pemilihan pasukan ”Three Lions” oleh Hodgson menyisakan tanda tanya besar. Apakah mereka siap bersaing dengan negara lainnya dengan para pemain ini?

Generasi emas

Semula, pertengahan dasawarsa 1990-an dipercaya sebagai kebangkitan sepak bola di tanah leluhurnya, Inggris. Munculnya klub sepak bola MU dengan para penggawa mudanya, seperti David Beckham, Nicky Butt, Paul Scholes, dan si kembar Gary dan Phil Neville, yang merupakan produk asli Inggris, di kancah Eropa menjadi titik tolak perubahan. Sejak itu, bermunculan wajah-wajah muda di dalam tubuh timnas Inggris.

Para pemain senior di timnas Inggris, seperti David Seaman, David Platt, hingga Tony Adams, pelan-pelan tergeser dari posisinya. Seiring menurunnya kemunculan pemain senior, para pemain muda Inggris unjuk gigi. Michael Owen, David Beckham, Kieron Dyer, Paul Scholes, hingga Steve McManaman menjadi tulang punggung Inggris di berbagai kompetisi.

Sejak wajah-wajah itu, Liga Inggris menjadi salah satu kompetisi yang paling dilirik, selain liga-liga yang sebelumnya sudah mapan, seperti Liga Italia, Spanyol, Jerman, dan Belanda. Banyak stasiun televisi berebut hak siar liga ini. Tak hanya untuk disiarkan di negara asalnya, tetapi hingga ke penjuru dunia.

Banyak penggila sepak bola menyebut Liga Inggris lebih dinamis dibandingkan liga lainnya, seperti Liga Italia dan Liga Jerman, yang dikenal sangat kaku bertahan. Bandingkan dengan pergerakan pemain Inggris yang ibarat tak kenal lelah. Hal ini membuat daya tarik tersendiri bagi penggila sepak bola.

Laporan lembaga pemeringkat Deloitte menyebutkan, dari sisi komersial, industri sepak bola meningkat tajam sejak 1992 saat Premiership dimulai.

Distribusi kekayaan Liga Inggris jauh lebih merata. Tim paling ”miskin”, Blackburn Rovers, menghasilkan 39 juta poundsterling (sekitar Rp 550 miliar) dari kontrak televisi. Sementara MU menjadi yang paling top dengan raihan 60 juta poundsterling (sekitar Rp 840 miliar).

Dalam dua dekade terakhir, Premiership juga menjadi tujuan utama para pemain terbaik di dunia. Pada saat akhir pekan, hampir dua pertiga pemain yang tampil sebagai starting XI di Premiership adalah pemain timnas sejumlah negara.

Bergabungnya pemain-pemain terbaik dunia di Liga Inggris langsung berimbas pada kinerja klub-klub elite mereka di pentas Eropa, Liga Champions, dan Piala UEFA. Kuartet elite mereka —MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool—secara reguler lolos dari babak pendahuluan dan paling kurang mencapai perempat final (Kompas, 19 Agustus 2011).

Ragu

Surat kabar lokal Inggris, The Guardian, dalam salah satu kolomnya sesudah ”Three Lions” kalah 1-4 dari ”Panser”, pada Piala Dunia 2010 menulis: 12 tahun era Generasi Emas lewat dengan begitu saja, dengan hasil menyesakkan.

Melihat bakat pemain yang termasuk dalam generasi emas, pantas bila masyarakat Inggris berharap banyak bisa mengulang prestasi di Piala Dunia 1966, ketika mereka bisa membawa trofi itu kembali ke tanah kelahiran, tanah leluhur olahraga sepak bola, Inggris.

Namun, melihat komposisi tim yang dibangun Hodgson, banyak pihak pesimistis dengan masa depan mereka di Piala Eropa 2012. Konflik internal organisasi sepak bola Inggris yang berimbas pada kemampuan tim harus berhadapan dengan tim negara lain yang lebih solid.

Simon Kuper dan Stefan Szymanski (Soccernomics, 2009), dengan berani menyebutkan, tim Inggris bak batu baterai murahan karena para pemain harus bertanding di liga yang sangat melelahkan.

Hodgson meyakini pilihannya sudah tepat. Baginya, di waktu yang tersisa, mempersiapkan tim yang solid menjadi fokus utamanya. Publik layak menunggu, apakah ramuan Hodgson mujarab. (AFP/MHD)

Di Bawah Generasi Emas
Reviewed by admin on
Rating: 5

Tags: , , , , , , , , ,

Trackback from your site.